Categories
Uncategorized

Berburu paus di Laut Lamera Nusa Tenggara Timur

Panas menusuk kala kaki tiba tanah Lembata dan ekspedisi meletihkan dari Jakarta lenyap telah berubah dengan semangat yang menggebu. Tujuan utama ke tanah Lembata ini merupakan buat menjajaki perburuan paus yang melegenda semenjak abad ke- 16 di Lamalera. Lamalera merupakan salah satu Whaling Village dari 2 desa pemburu paus yang dilegalkan di dunia. Jalanan berdebu pula berbatu kami tempuh demi berkunjung ke desa ini.

Jarak Lamalera yang terletak di Kecamatan Wulondani dari Lewoleba yang ialah bunda kota Kabupaten Lembata merupakan dekat 52 kilometer, dapat ditempuh sepanjang 2- 3 jam ekspedisi darat. Lamanya ekspedisi disebabkan keadaan jalur yang tidak bagus. Jalan dari Lewoleba mengarah Lamalera melewati 3 kecamatan, ialah Nubatukan, Nagawutung, serta Wulandoni. Biasanya, jalur aspal yang kondisinya baik cuma 500 m hingga 1 kilometer di beberapa titik semacam di Desa Labalimut, Nagawutung.

Banyak cerita menimpa Lamalera yang kami dengar sesampainya di Lembata. Terlebih waktu kami tiba ke situ bersamaan dengan diadakannya ritual Misa Arwah serta Misa Leva buat mengawali masa perburuan paus yang dilaksanakan tiap Mei- September.

Nelayan di Lamalera tidak langsung terjun ke laut serta mencari sampai ke tengah Laut Sawu buat memperoleh paus. Warga senantiasa berkegiatan semacam biasa di darat sembari mencermati tanda- tanda alam. Mereka menyebut itu bagaikan Nyanyian Laut. Terdapat sebagian tanda- tanda yang diberikan alam apabila hendak timbul paus di perairan Lamalera. Misalnya saja suara angin, ombak, burung, serta sebagian yang lain.

Kala terdapat masyarakat yang memandang semburan air ke atas, itu maksudnya terdapat paus yang melalui serta mendadak itu pula mereka berteriak,“ Baleo”. Baleo ialah istilah yang diberikan masyarakat Lamalera buat paus. Setelah itu masyarakat sambung- menyambung meneriakkan kata“ Baleo” supaya seluruh masyarakat mendengar.

Sehabis itu, nelayan hendak lekas berlari mengarah rumah peledang ataupun Naje serta mendesak peledang( perahu dayung) ke laut. Para istri dengan cekatan lekas membungkus bekal santapan serta minuman buat para suami yang hendak mencari. Mencari paus tidaklah perihal yang gampang. Masyarakat Lamalera memiliki peraturan, ialah paus cuma dapat dikejar hingga batasan optimal sepanjang pemikiran mata ke arah kapel yang terdapat di tepi laut.

Bila kapel tersebut telah tidak nampak, hingga mereka wajib kembali ke kampung sebab itu tanda- tanda kalau paus tersebut tidak diperuntukkan untuk mereka. Mereka percaya

kalau paus yang memanglah diperuntukkan buat mereka hendak tiba dengan sendirinya tanpa mereka wajib mengejar melewati batasan teritori perburuan sebab itu melanggar adat.

Nelayan di Lamalera senantiasa mengincar paus mani ataupun Koteklema yang mempunyai semburan pas di atas kening. Nelayan Lamalera tidak memburu paus biru ataupun Kelaru yang mempunyai semburan pas di atas kepala mereka. Mereka tidak memburu paus biru sebab itu ialah perintah dari nenek moyang. Tidak hanya Koteklema, nelayan Lamalera pula memburu orca ataupun paus pembunuh. Dalam sebutan Lamalera, paus pembunuh diucap Seguni.

Tetapi sayangnya, orca tidak sering sekali melintas di perairan Lamalera. Terkadang cuma setahun sekali ataupun apalagi hingga sebagian tahun. Orca ialah paus dengan tingkatan perlawanan sangat ganas. Kekokohannya sangat besar kala memberontak dikala para nelayan menangkapnya.

Nelayan yang bertugas menghujamkan tombak ataupun Tempuling ke paus diucap Lamafa. Lamafa hendak berdiri di ujung peledang yang digunakan buat mencari paus. Buat paus mani, tombak dihujamkan pas di balik kepala sebab di situlah bagian yang lunak. Kebalikannya, memburu orca lebih susah sebab para nelayan Lamalera mengincar bagian ketiaknya supaya tempuling dapat menusuk langsung ke jantung paus pembunuh itu.

Jika paus telah ditikam, perahu dapat diseret masuk ke lautan. Sebab itu perjuangan para nelayan Lamalera sangatlah berat. Banyak nelayan yang gugur kala mencari paus. Apalagi sempat terdapat yang diseret oleh paus hingga ke perairan Australia sepanjang sebagian hari hingga kesimpulannya mereka ditemui oleh suatu kapal pesiar.

Buat mengenang para nelayan yang gugur, hingga tiap dini masa perburuan diadakan Misa Arwah. Misa Arwah dilaksanakan sore hari dipandu oleh seseorang pemuka agama Katholik di suatu kapel yang terletak di pinggir tepi laut. Masyarakat Lamalera berkumpul memakai sarung adat. Atmosfer syahdu serta mistis terasa kala misa diawali. Berbaur dengan suara deru ombak, angin yang berhembus, serta matahari yang beranjak luruh di garis cakrawala.

Sehabis khotbah berakhir, di dasar siraman bulan purnama penduduk Lamalera menyalakan parafin yang setelah itu dihanyutkan ke laut lepas sehabis melewati proses pemberkatan. Keesokan harinya baru dilaksanakan Misa Leva yang dimaksudkan buat pemberkatan peledang serta memohon berkat laut supaya perburuan berjalan mudah dengan hasil yang optimal serta para nelayan kembali dengan selamat.

Sehabis pemberkatan peledang berakhir, peledang lekas didorong ke laut serta para nelayan mengawali perburuan. Hari awal setelah misa perburuan dicoba cuma secara simbolis saja, namun bila terdapat paus yang terlihat, perburuan senantiasa dicoba.

Waktu kami ke situ, sebagian jam sehabis peledang diluncurkan, terdengar ramai masyarakat meneriakkan“ Baleo”. Antara kaget serta gembira yang kami rasakan. Nyatanya kami beruntung menjajaki misa serta sekalian memperoleh paus.

Beramai- ramai masyarakat lekas mengarah ke Naje serta bergotong royong mendesak peledang ke laut sembari berloncatan menaikinya. Aku juga kala menemukan tawaran buat bergabung dengan para pemburu, langsung menerimanya dengan sukacita. Tidak hirau panas terik menusuk serta sepatu basah oleh air laut, aku langsung meloncat ke atas peledang. Mendadak terbayang heroiknya film In The Heart of The Sea yang diperankan oleh Chris Hemsworth.

Peledang yang digunakan sesungguhnya cumalah perahu dayung biasa yang dilengkapi layar. Namun saat ini, supaya lebih gampang menarik paus ke tepi laut, peledang tersebut ditarik oleh perahu motor. Jadi, satu perahu motor dialokasikan buat menarik satu peledang. Apabila paus telah didekati, peledang hendak dilepaskan oleh perahu motor buat membiarkan si Lamafa beraksi. Sehabis paus sukses ditaklukan, perahu motor tersebut hendak menolong menarik paus ke tepi laut.

Tidak hanya perburuannya yang menegangkan, pembagian daging paus hasil buruan pula ialah panorama alam yang menarik. Pembagian daging paus ialah tradisi turun- temurun yang ditaati oleh seluruh orang Lamalera,

sehingga ditentukan tidak terdapat rebutan dikala daging itu dipotong.

Sayangnya, paus yang kami buru waktu itu terlepas. Namun, keesokan harinya kala kami telah hingga di Lewoleba, kami menemukan berita kalau paus yang kemarin terlepas kesimpulannya dapat ditangkap. Alam warnanya pula tetap berpihak kepada warga Lamalera dengan membawakan paus ke lautan di hadapan mereka. Tiap tahun, paus- paus itu bermigrasi antara Samudera Hindia serta Pasifik melewati Laut Sawu pas di depan pintu Pulau Lembata sepanjang bulan Mei hingga September.

Mengenai perburuan pada binatang yang dilindungi itu, mantan Menteri Area Hidup Sonny Keraf berkata dikala jumpa pers Festival Adventure Indonesia 2014 di Jakarta,“ Aktivitas perburuan paus dicoba buat segala rakyat Lembata, bukan secara individual. Kita tidak mengabaikan area hidup, tetapi budaya pula butuh dibesarkan.”

Perburuan paus di Desa Lamalera, Lembata, ialah bagian budaya turun temurun serta dicoba secara tradisional. Meski menuai kritik dari para pemerhati area, budaya ini legal di mata internasional. Perburuan paus tradisional telah diakui dunia internasional serta tradisi ini cuma terdapat di Kanada serta Indonesia saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *